Riset jurnalistik · data satelit · dipotong 15 Oktober 2026

Karhutla Agustus–Oktober 2026

Api di Indonesia sepanjang 1 Agustus – 15 Oktober 2026 dibaca dari tiga sumber yang saling menguji: titik panas NASA FIRMS, peta luas terbakar MODIS MCD64A1, dan batas izin perusahaan dari Nusantara Atlas, lalu disandingkan dengan data resmi SiPongi KLHK.

1.572.929titik panas di daratan Indonesia
±1,55 juta haperkiraan luas terbakar s.d. 15 Okt
45,3%titik panas di dalam izin, yang luasnya 34,2% daratan
29 kab · 111 konsesiapinya masih naik di bulan Oktober

Temuan utama

  1. Musim api belum lewat puncaknya. Minggu dengan titik panas terbanyak adalah minggu yang dimulai 1 Okt (218.231 deteksi). Sampai 15 Oktober, 29 kabupaten dan 111 lokasi konsesi masih berpola “naik di Oktober”.
  2. Luasnya sekitar tiga kali angka Agustus. MCD64A1 mengukur 480.299 ha terbakar di bulan Agustus saja. Dengan rasio Agustus per provinsi, luas sampai 15 Oktober diperkirakan ±1,55 juta ha (0,83% daratan). Angka resmi KLHK di SiPongi baru 202.011 ha dan hanya sampai Juli.
  3. Hampir separuh api ada di dalam izin, padahal izin hanya sepertiga daratan. 45,3% titik panas dan 48,5% luas terbakar Agustus berada di dalam izin yang mencakup 34,2% daratan. Kepadatan api di izin 1,42 kali rata-rata. HTI (1,76×) dan HGU (1,65×) paling padat; konsesi HPH hutan alam justru lebih jarang terbakar (0,60×).
  4. Api berpindah. Kalimantan Barat adalah pusat api di bulan Agustus (717 rb ha sel baru) lalu mereda (76 rb ha di 1–15 Okt). Kalimantan Tengah memuncak di September (696 rb ha), sebagian besar di luar izin. Pada Oktober api bergeser ke Sumatera Selatan dan Papua bagian selatan: separuh titik panas OKI sepanjang musim muncul di Oktober.
  5. Dua cerita berbeda di balik angka nasional. Di Kalimantan Barat dan Kalimantan Timur, 69% dan 74% titik panas ada di dalam izin: ini cerita konsesi. Di Kalimantan Tengah hanya 38%: api di gambut eks-PLG, food estate, dan lahan di luar izin, yang menjadi pertanyaan tata kelola negara.
  6. Izin dengan luas terbakar terbesar bukan yang paling banyak titik panasnya. Hutan Ketapang Industri kehilangan 16.228 ha (16,6% izin) di bulan Agustus tetapi hanya peringkat 16 menurut titik panas. Beberapa kebun terbakar 30–68% luas izinnya dalam satu bulan.
  7. Titik panas bukan titik api. Pada Agustus hanya 17% titik panas jatuh tepat di bekas bakar terukur dan 32% dalam radius 1 km. Confidence tinggi hanya sedikit lebih baik (38%–42%).
  8. Data hotspot SiPongi akurat, data respons dan pemantauan gambutnya tidak. Titik panas NASA di SiPongi sama dengan FIRMS. Tetapi 45% catatan pemadaman bertanggal salah, ground check hanya 123 titik, dan sensor muka air gambut konsesi memuat nilai yang mustahil.

Skala

Tiga ukuran dipakai dan masing-masing menjawab pertanyaan berbeda. Titik panas menghitung deteksi satelit; satu kebakaran bisa menghasilkan ratusan deteksi. Sel tersentuh api menghitung sel 375 m (14 ha) yang pernah terdeteksi panas, sehingga menunjukkan jangkauan api. Luas terbakar adalah lahan yang benar-benar hangus menurut MCD64A1, yang baru tersedia untuk Agustus.

WilayahTitik panas% di izinSel tersentuh (ha)Terbakar Agu, terukur (ha)Perkiraan s.d. 15 Okt (ha)% sel berulang
Indonesia1.572.92945,3%8.290.589480.2991.547.72810,6%
Kalimantan844.11050,3%3.605.372260.746709.10212,5%
Sumatera222.44849,6%1.040.90661.113236.13211,2%
Papua254.50146,7%1.701.56293.763356.4829,9%

Perkiraan September–Oktober memakai rasio luas terbakar MCD64A1 terhadap luas sel di bulan Agustus (nasional 0,17), per provinsi. Dua metode skala lain memberi rentang 1,05–1,63 juta ha, jadi angka ±1,55 juta ha berada di ujung atas rentang itu. Perimeter api GWIS (JRC/Copernicus) sampai 15 Oktober mencakup 10,7 juta ha; angka itu batas luar wilayah api, sekitar sepuluh kali luas yang benar-benar hangus pada bulan yang sama, dan tidak boleh dikutip sebagai luas terbakar.

Angka resmi SiPongi untuk 2026 adalah 202.011 ha, berhenti di Juli. Untuk periode yang sama (Januari–Juli) MCD64A1 mencatat 107.909 ha, jadi angka resmi tidak dikecilkan; masalahnya keterlambatan. Sebagai pembanding, pada 2019 satelit mencatat 2.044.903 ha, 24% di atas angka resmi 1.649.258 ha.

Dinamika waktu

Titik panas per minggu per pulau. Kalimantan mendominasi sampai akhir September; pada Oktober Papua dan Sumatera naik bersamaan.

020.00040.00060.00080.000100.000120.000140.00030 Jul13 Agu27 Agu10 Sep24 Sep8 OktKalimantan 87.051Papua 38.293Sumatera 31.282Lainnya 24.990
Semua sensor FIRMS, daratan Indonesia. Minggu terakhir (15 Okt, satu hari) tidak digambar.

Luas sel yang baru tersentuh api tiap bulan memperlihatkan ke mana api menjalar. Provinsi diurutkan menurut perkiraan luas terbakar.

ProvinsiSel baru Agu (ha)Sel baru Sep (ha)Sel baru 1–15 Okt (ha)% titik di izinTerbakar Agu (ha)Perkiraan s.d. 15 Okt (ha)Pola waktu
Kalimantan Tengah390.122695.784405.11238%95.609365.411Puncak 12–18 Sep, masih menyala
Papua (gabungan)419.470559.406444.31943%76.418259.276Naik di Oktober, belum padam
Sumatera Selatan120.867268.917164.22256%35.483162.640Puncak 12–18 Sep, masih menyala
Kalimantan Barat716.667350.52275.60069%92.389147.323Agustus panjang, mereda September
Maluku97.102184.96484.12231%34.066128.470Puncak 12–18 Sep, masih menyala
Kalimantan Selatan150.342163.20998.12843%43.061117.912Puncak 12–18 Sep, masih menyala
Papua Barat (gabungan)49.669115.748112.95064%17.34497.206Naik di Oktober, belum padam
Kalimantan Timur174.431211.866106.05974%25.54472.103Puncak 12–18 Sep, masih menyala
Lampung42.21651.91934.39751%15.32746.664Puncak 12–18 Sep, masih menyala
Maluku Utara26.12871.80369.97551%4.72230.348Puncak 12–18 Sep, masih menyala
Nusa Tenggara Timur109.448126.94268.3444%10.88330.302Puncak 12–18 Sep, masih menyala
Sulawesi Tenggara27.97059.83639.43126%2.74812.499Puncak 12–18 Sep, masih menyala

Kalimantan Tengah kini provinsi dengan perkiraan luas terbakar terbesar (±365 rb ha). Sumatera Selatan masih bertambah: 164 rb ha sel baru hanya dalam setengah bulan Oktober, mendekati angka September penuh (269 rb ha). Di Papua, sel baru Oktober (444 rb ha dalam 15 hari) melampaui seluruh Agustus (419 rb ha).

Pola waktu

Setiap kabupaten dan lokasi konsesi dengan cukup deteksi dikelompokkan menurut bentuk deret mingguannya (porsi deteksi per minggu, k-means, lima kelompok). Pola ini membedakan api yang sudah padam dari api yang masih berjalan, terlepas dari besarnya.

PolaProvinsiKabupatenKonsesiContoh kabupatenContoh konsesi
Agustus panjang, mereda September83785Ketapang, Berau, Sanggau, MelawiMekar Karya Kahuripan, Hutan Ketapang Ind (Dh. Kertas Basuki R), Laman Mining
Lonjakan singkat 22–28 Agu01322Nabire, Sarolangun, Pelalawan, Indragiri HilirSebukit Inter Nusa, Merbau Pelalawan Lestari, Musi Hutan Persada
Lonjakan singkat 29 Agu–4 Sep01059Kayong Utara, Kubu Raya, Gunung Mas, BulunganMayawana Persada, Harapan Subur Lestari, Satong Silika Sukses
Puncak 12–18 Sep, masih menyala21169153Pulang Pisau, Kotawaringin Timur, Kapuas, Kota Palangka RayaBorneo Wana Utama, Indika Ekosistem Khatulistiwa, Mohairson Pawan Khatulistiwa
Naik di Oktober, belum padam229111Merauke, Ogan Komering Ilir, Seruyan, MappiBumi Mekar Hijau, PT Murni Nusantara Mandiri, Buana Megatama Jaya

Pola “Agustus panjang, mereda September” didominasi Kalimantan Barat bagian pedalaman (Ketapang, Sanggau, Sintang, Melawi). Pola “Puncak 12–18 Sep, masih menyala” adalah pola gambut Kalimantan Tengah (Pulang Pisau, Kapuas, Kotawaringin Timur, Palangka Raya). Pola “Naik di Oktober” adalah pola Merauke, OKI, Seruyan, Mappi, dan Fakfak, dan juga pola Bumi Mekar Hijau, konsesi dengan titik panas terbanyak di Indonesia.

Provinsi dan kabupaten

Lima belas kabupaten dengan titik panas terbanyak. Kolom respons berasal dari catatan Manggala Agni di SiPongi.

KabupatenProvinsiTitik panas% di izin% di OktPolaTerbakar Agu (ha)PemadamanGround check
MeraukePapua (gabungan)143.66551%38%Naik di Oktober, belum padam57.24920
KetapangKalimantan Barat127.81575%13%Agustus panjang, mereda September78.093170
Pulang PisauKalimantan Tengah85.67036%26%Puncak 12–18 Sep, masih menyala13.717180
Ogan Komering IlirSumatera Selatan73.76767%50%Naik di Oktober, belum padam16.18500
Kotawaringin TimurKalimantan Tengah66.10226%19%Puncak 12–18 Sep, masih menyala21.552132
KapuasKalimantan Tengah65.57541%30%Puncak 12–18 Sep, masih menyala11.46300
SeruyanKalimantan Tengah60.06936%42%Naik di Oktober, belum padam18.91120
Kota Palangka RayaKalimantan Tengah42.90428%18%Puncak 12–18 Sep, masih menyala8372932
KatinganKalimantan Tengah41.53036%39%Puncak 12–18 Sep, masih menyala3.757520
Kotawaringin BaratKalimantan Tengah33.19618%40%Puncak 12–18 Sep, masih menyala4.143460
MappiPapua (gabungan)29.22117%33%Naik di Oktober, belum padam5.17300
Musi BanyuasinSumatera Selatan25.14450%38%Puncak 12–18 Sep, masih menyala2.21100
PaserKalimantan Timur20.95768%32%Puncak 12–18 Sep, masih menyala4.3794121
BerauKalimantan Timur20.95680%4%Agustus panjang, mereda September9.46600
Kayong UtaraKalimantan Barat20.56349%1%Lonjakan singkat 29 Agu–4 Sep5.731350

Ketapang adalah kabupaten dengan luas terbakar Agustus terbesar dan 75% titik panasnya di dalam izin, sehingga cerita konsesinya paling kuat. Merauke punya titik panas terbanyak (143.665); api sabana yang rutin terbakar bercampur dengan wilayah proyek strategis nasional, dan izin PSN yang tidak tercatat di Atlas akan terbaca “di luar izin”. OKI (67% di izin, 50% di Oktober) adalah kabupaten gambut yang apinya masih naik dan menjadi sumber asap terdekat bagi Palembang.

Konsesi perusahaan

Jenis izin

Porsi luas terbakar Agustus dibanding porsi daratan untuk tiap jenis izin. Rasio di atas 1 berarti api lebih padat dari rata-rata. Izin saling menindih, jadi baris per jenis tidak dijumlahkan.

Jenis izin% daratan% luas terbakar AguRasio
HTI6,1%10,7%1,76×
HGU5,8%9,6%1,65×
Izin sawit (IUP/izin lokasi)11,1%14,8%1,33×
PBPH17,5%21,7%1,23×
HPH hutan alam10,2%6,1%0,60×
Tambang7,2%13,9%1,93×
Izin lain1,5%4,5%3,05×
Semua izin (dihitung sekali)34,2%48,5%1,42×
Di luar semua izin65,8%51,5%0,78×

Rasio tambang yang tinggi perlu hati-hati: banyak IUP tambang menindih HTI atau kebun (misalnya izin silika di dalam Buana Megatama dan Hutan Ketapang Industri), sehingga api di poligonnya belum tentu di lahan tambang.

Izin dengan luas terbakar terbesar, Agustus

IzinJenisGrup (Atlas)ProvinsiLuas izin (ha)Terbakar Agu (ha)% izin terbakarPeringkat titik panas
Hutan Ketapang Ind (Dh. Kertas Basuki R)HTI+PBPH–Kalimantan Barat97.98616.22816,6%16
Strata PasificHPH+PBPH–Maluku73.3977.85710,7%28
Wanakerta EkalestariHTI+PBPH–Kalimantan Barat26.6125.58121,0%146
Mekar Karya KahuripansawitMakinKalimantan Barat12.7424.87338,2%13
Natai Ekosistem SejahteraPBPH–Kalimantan Tengah19.7884.78724,2%49
PT Bumi Agung Lestarilain–Papua Selatan53.1264.3158,1%71
Hermes Sugar IndonesiaPBPH–Kalimantan Tengah10.4693.95037,7%61
PP London Sumatra Indonesia (Isuy Makmur Estate)HGU+sawitSalim/IndoAgriKalimantan Timur23.3093.71415,9%228
Arfak IndraHPH+PBPH–Papua Barat177.3223.6062,0%34
Bumi Mekar HijauHTI+PBPH–Sumatera Selatan250.2423.4561,4%1
Kalamanthana Alam LestariPBPH–Kalimantan Tengah31.6883.19810,1%88
Sinar Karya MandiriHGU+sawitPalma Agro LestariKalimantan Barat10.5193.19830,4%56
Mohairson Pawan KhatulistiwaHPH+PBPH–Kalimantan Barat48.2513.1556,5%8
Anugerah Bumi Nusantara CemerlangPBPH–Maluku50.0343.0486,1%92
Waenibe Wood IndustriesHTI+PBPH–Maluku29.5533.02710,2%164

Persentase izin yang hangus dalam satu bulan adalah sinyal terkuat untuk diuji ke hipotesis pembukaan lahan. Kebun yang 30–68% luasnya terbakar dalam sebulan jarang terjadi kebetulan, tetapi bekas bakar MCD64A1 juga bisa tertukar dengan bongkar mekanis, sehingga setiap klaster harus diverifikasi dengan Sentinel-2.

Konsesi yang apinya masih naik di Oktober

Lokasi konsesiJenisGrup izin utamaProvinsiTitik panas% di OktTerbakar Agu (ha)
Bumi Mekar HijauHTI+PBPH–Sumatera Selatan25.33249%3.456
PT Murni Nusantara Mandirilain–Papua (gabungan)8.34063%86
Buana Megatama JayaHTI+tambang+PBPH–Kalimantan Barat8.07373%0
Selaras Inti SemestaHTI+PBPH–Papua (gabungan)7.18137%2.018
Dinamika Graha SaranaHGU+sawitSungai BudiSumatera Selatan6.96189%0
PT Bumi Sriwijaya Sentosalain–Sumatera Selatan4.40851%429
Tunas Timber Lestari (Dh. Pt Tunas Sawaerma)HPH+PBPH–Papua (gabungan)4.34574%0
Hardaya Sawit Papua PlantationsawitCentral Cipta Murdaya (Murdaya Family)Papua (gabungan)4.14843%0
Arfak IndraHPH+PBPH–Papua Barat (gabungan)3.77545%3.606
Irmasulindo Unit IiHPH+PBPH–Papua Barat (gabungan)3.45061%0
PT Semesta Gula Nusantaralain–Papua (gabungan)3.30751%129
Wanamulia Sukses Sejati Unit I & IiHTI+PBPH–Papua (gabungan)3.27871%43

Daftar ini didominasi Papua dan Sumatera Selatan. Banyak di antaranya izin tebu di Papua Selatan yang tercatat sebagai “izin lain” (Murni Nusantara Mandiri, Semesta Gula Nusantara, Global Papua Abadi, Valensia Indo Makmur, Bumi Agung Lestari), di wilayah PSN Merauke. Grup diambil dari atribusi Nusantara Atlas pada izin utama lokasi dan belum diverifikasi akta; hanya 43% izin punya atribusi grup, dan 50% titik panas di dalam izin jatuh di izin yang ber-grup.

Hotspot vs firespot

Titik panas adalah piksel yang lebih panas dari sekitarnya, bukan kebakaran yang terkonfirmasi. Uji Agustus membandingkan setiap titik panas dengan peta bekas bakar MCD64A1.

SensorKelas confidenceTitik panasTepat di bekas bakarDalam 1 km dari bekas bakar
MODIShigh10.67021%42%
MODISlow1.64517%38%
MODISnominal/medium22.24513%29%
VIIRShigh17.18323%38%
VIIRSlow23.57616%31%
VIIRSnominal/medium388.32217%32%

Sekitar dua pertiga titik panas tidak dekat bekas bakar yang terlihat dari 500 m. Sebagian adalah api kecil, api gambut di bawah permukaan, api bawah tajuk, atau pembakaran kecil berulang yang tidak tertangkap MCD64A1; sebagian lain bukan api vegetasi. Angka 32% adalah batas bawah firespot, bukan proporsi sebenarnya. Anggapan bahwa confidence tinggi sama dengan firespot tidak didukung data ini. Untuk naskah, tulis “titik panas (hotspot)”.

Data resmi SiPongi

Titik panas: akurat dan tepat waktu. Jumlah deteksi NASA di SiPongi selisih kurang dari 0,5% dari FIRMS dan diperbarui dalam hitungan jam. SiPongi tidak memuat NOAA-21, sehingga totalnya sekitar sepertiga lebih kecil dari FIRMS lengkap.

Luas kebakaran: tertinggal. Angka “202K+ ha” yang tampil untuk 2026 berhenti di Juli.

Respons: tidak berada di tempat api. Dari 921 catatan pemadaman, 293 berada di Kota Palangka Raya, sementara OKI punya 0. Ground check hanya 123 titik untuk sekitar 1,6 juta titik panas.

KabupatenTitik panasCatatan pemadamanGround check
Merauke143.66520
Ketapang127.822170
Pulang Pisau85.670180
Ogan Komering Ilir73.76700
Kotawaringin Timur66.102132
Kapuas65.57500
Seruyan60.06920
Kota Palangka Raya42.9042932
Katingan41.532520
Kotawaringin Barat33.196460

Kualitas entri. 413 catatan pemadaman (45%) bertanggal di luar musim, hingga 2028; 408 di antaranya punya “hari” 8 atau 9, tanda bulan Agustus/September tersimpan di kolom hari. Data ground check memuat entri uji coba berlabel “Tes”.

Sensor muka air gambut (TMAT) konsesi. 152 dari 300 stasiun melewati batas −40 cm PP 57/2016. Curah hujan tercatat nol di 300 stasiun selama 30 hari. 13 stasiun mencatat muka air datar sebulan penuh, kebanyakan tepat 0,0 cm yang otomatis terbaca “aman”. 8 stasiun gambut tercatat di DKI Jakarta karena provinsinya diisi dari alamat kantor pusat, padahal koordinatnya di Kalimantan Tengah. Di Rimbun Seruyan, dua stasiun mencatat air di atas permukaan (+4 cm dan +30 cm) di puncak kemarau, dengan 719 dan 310 titik panas dalam radius 2 km. Kejanggalan sensor bukan bukti manipulasi; ini bahan konfirmasi ke KLHK dan perusahaan.

Metode dan batasan

  • Titik panas: NASA FIRMS NRT (VIIRS SNPP, NOAA-20, NOAA-21; MODIS), semua kelas confidence, daratan Indonesia, 1 Agu – 15 Okt 2026.
  • Batas izin: Nusantara Atlas WFS (HGU ATR/BPN, izin sawit, HTI, PBPH, HPH, tambang, izin lain), 36.563 fitur. Izin yang saling menindih dipertahankan semua; untuk peringkat lokasi, izin yang berbagi ≥90% deteksi digabung.
  • Luas terbakar: MODIS MCD64A1 v061 (500 m) untuk Agustus. Data September dan Oktober belum dirilis NASA. Planetary Computer tidak punya MCD64A1 September 2023 dan Agustus–Oktober 2025, sehingga pembanding dua tahun itu belum bisa dibuat.
  • Batas bawah. MCD64A1 melewatkan api kecil dan api gambut di bawah permukaan. Lokasi titik adalah pusat piksel, sehingga titik di tepi izin bisa meleset.
  • Atribusi. Grup perusahaan dari Nusantara Atlas adalah atribusi pihak ketiga, belum diverifikasi akta. Izin tidak sama dengan penguasaan nyata di lapangan.
  • Tidak bisa dijawab satelit: siapa yang menyalakan api dan dengan tujuan apa. Bantahan perusahaan bahwa lahannya dibakar pihak lain adalah keterangan pihak terkait yang diuji terhadap data, bukan bukti.
  • Wilayah: batas provinsi dan kabupaten geoBoundaries 2017; provinsi pemekaran Papua digabung ke induknya.

Langkah lanjut

  1. Jalankan ulang luas terbakar saat MCD64A1 September (±pertengahan November) dan Oktober (±pertengahan Desember) rilis, untuk mengganti perkiraan dengan angka terukur.
  2. Verifikasi Sentinel-2 20 m untuk izin dengan porsi terbakar tertinggi: uji arang vs bongkar mekanis, luas 1 Agu – 15 Okt, dan titik nyala pertama (di dalam izin, di tepi, atau dari luar).
  3. Uji pembukaan lahan vs pihak lain per klaster: riwayat lahan sebelum api, umur tanaman yang terbakar, persiapan sebelum api, dan pemanfaatan sesudahnya.
  4. Tambahkan peta gambut resmi (BBSDLP/KLHK) per titik untuk mengukur porsi api gambut, ukuran terpenting untuk cerita asap.
  5. Pertanyaan konfirmasi untuk KLHK: kapan luas Agustus–Oktober diumumkan; mengapa catatan respons tidak ada di OKI, Kapuas, dan Merauke; bagaimana sensor TMAT bisa membaca 0,0 cm atau hujan nol sebulan; mengapa stasiun Kalimantan tercatat di DKI.
  6. Pertanyaan konfirmasi untuk perusahaan di daftar luas terbakar dan “naik di Oktober”: luas terbakar menurut catatan mereka, lokasi titik awal api, upaya pemadaman, dan rencana pemanfaatan lahan sesudahnya.